Inti Kehidupan Yang Tersirat Pada Buku ‘Obata Nowe Batiththanta’

“Apakah kita memerlukan kata pendahuluan saat kita seluruh menangisi perpisahan dalam hidup”, Sanjeewa Moonamalpe menciduk pembaca dengan kalimat-kalimat ini sebagai kata pendahuluan dari koleksi puisinya ‘Obata Nowe Batiththanta’ (Bukan guna Anda, guna Chaffinches). Mengikuti filosofi Jean-Paul Charles Aymard Sartre, ia menerbitkan eksistensialisme di semua puisinya. Seluruh koleksi konsep ketiadaan dirasakan. Puisi kesatu ‘Rasawaththu Sallalayoo Wooha’ (Mereka yang menikmati pulang menjadi pengembara) berfokus pada bagaimana alkohol dan rumput binal telah merembes ke dalam kehidupan mereka yang basah kuyup air mata patah hati dan penderitaan hidup. Mereka yang menderita akan tidak jarang kali menderita dan perjuangan tidak bakal pernah berakhir.

Dalam perang orang kaya, bagaimana kehidupan orang beda dieksploitasi oleh kekuatan perang, kemiskinan, dan depresi dikatakan melalui puisi ‘Maragena Marena Sahodariyakata’ (Pembom bunuh diri yang ialah saudara perempuan). Ini menyentuh kehidupan ‘Thamilini Jeyakumaran’ yang dulunya teroris LTTE. Satu paragraf dari otobiografinya berlangsung sepanjang puisi yang menimbulkan ketidakberadaan perang. Bagaimana perang orang kaya tersebut diperjuangkan oleh pemuda bangsa, terbagi dan hilang. Garis akhir puisi menyentuh emosi insan pembaca dalam skala yang tidak terduga. Pemahaman bahwa pembaca dan teroris ialah satu dan sama, insan di tingkat dasar dan ditindas oleh dominator masyarakat. Pemahaman antara pengarang dan teroris mendahului batas-batas tradisional pemahaman ke dalam lanskap kehilangan dan kemanusiaan.

‘James Ayya’ (Brother James) masuk ke lanskap puisi melewati kehidupan dan filsafatnya. Tema ‘Nothingness’ kembali berlangsung di semua puisi. Kali ini meskipun menyoroti keperluan dasar insan yang diisi dengan teknik sehari-hari yang mempersonifikasikan masyarakat umum sebuah bangsa. Hidup guna roti harian mereka, memenuhi khayalan anak-anak dan family mereka sementara khayalan mereka sendiri memudar ke cakrawala.

Dengan tersebut penulis bergerak lebih jauh ke dunia hasrat yang bergairah dalam puisi ‘Hangum Pipireemak’, (Meledak Emosi) dan mengekspresikan kecintaan atas kemauan yang pernah terpenuhi dan cinta yang lama hilang. Sanjeewa Moonamalpe menanam sentuhan terakhir guna koleksi puisinya melewati puisi ‘Boho Kalakata Pasu’ (Setelah masa-masa yang lama) dengan perasaan nostalgia atas konsep waktu.

Dalam memori kesepian yang terbangun dengan emosi insan yang terasa lama, kesepian ialah kekasih nostalgia yang menganiaya patah hati. Ini dicerminkan melalui langit kosong tanpa bulan atau bintang-bintang. Sekali lagi, menyoroti konsep ‘ketiadaan’ sepanjang kehidupan insan dalam puisi ‘Gewunu Digu Siwu Raya’ (Malam panjang berlalu).

Eksistensialisme mencetuskan jauh di dalam puisi ‘Warella math ekkama windawanna’ (Mari menderita bareng saya). Di dunia di mana cahaya bulan dikagumi sebab keindahannya, kicauan burung sebagai musik, penulis menyaksikan sebaliknya. Penulis melihat ketidaktahuan di bawah sinar bulan dan ratapan burung-burung yang membawa ratapan jiwa insan yang menderita sepanjang hidup. Angin dialami sebagai perasaan menjijikkan yang menambah kekosongan hidup. Kekosongan dan ketidaktahuan yang dialami penulis ini, menghampar di semua puisi yang menyoroti ketiadaan dalam kehidupan.

Kasih seorang saudara sedalam cinta seorang ayah. Puisi ‘Loku Ayyata’ (Untuk kakak laki-laki) melukis cinta seorang kakak laki-laki di pikiran pembaca.

Melepaskan mimpinya sendiri, sebagai kakak laki-laki ia membina mimpi saudara-saudaranya dan bahkan pada ketika terakhir hidupnya bagaimana ia mencungkil nafas terakhirnya dengan teknik yang sama yang merangkul kehidupan dengan pemahaman bahwa perjalanan lain dibuka dengan kematian. . Seluruh koleksi puisi ini filosofi mengarah ke hidup ditekankan.

‘Bindu Mihirathi Mathaka Kabilith’ (Kenangan manis rusak), menyentuh memori dalam kesadaran batin yang dikenang oleh masa kini. Berdasarkan keterangan dari penulis, ketiadaan berlaku di mana-mana dalam hidup sampai-sampai segala sesuatu yang membutuhkan memori ini hilang. Dan kenangan tersebut sendiri tersembunyi di sudut-sudut hati seseorang. Meratap guna cinta yang lama hilang dan hilang dikenang oleh memori dan narator tersiksa oleh ini. Puisi selesai dengan pertanyaan di mana narator berkata tentang orang yang dicintainya, andai dia pun mengingat memori yang sama dengan kehadiran hari ini.

‘Ee Wiyali Bo Patha’ (Daun kering yang kering), membawa kita pada perjalanan dimana kita pun biasa mengurangi daun ‘Bo Tree’ di dalam halaman-halaman buku-buku kita. Narator menggunakan memori nostalgia dari daun pohon Bo untuk menilik kembali memori cinta yang telah lama hilang.

Sekali lagi, konsep ketiadaan diciptakan dengan estetis di semua puisi ini. Simbol dan metafora mengekor garis konsep ketiadaan.

Sama laksana nama yang tertulis di daun pohon Bo yang selamanya menginginkan di hati, hidup meleleh laksana kubus es di tangan, pemisahan dari orang yang disukai dan nama yang pun memudar laksana debu, ialah simbol estetis masa kemudian cinta pergi.

Puncak dari puisi itu ialah pada saat saat narator secara tidak sengaja bertemu dengan orang yang dia cintai, di jalanan pergi guna bekerja. Gelombang kejutan memori melewati dirinya dan satu-satunya urusan yang dia rasakan ialah kesepian yang tak tertahankan. Dan laksana nama yang diukir pada daun pohon Bo, nama yang sama diukir di dinding hatinya tidak pernah melepaskannya dalam emosi dan ingatan.

Boho Kalakata Pasu Rambukkana Dumriya Nawathumedi ’(Setelah lama di Stasiun Kereta Rambukkana) ialah tempat narator meneliti orang itu, dia senang menatapnya sarat harap. Pembaca menyadari ini melulu di akhir puisi. Keberhasilan dan ketidakbergunaan harapan-harapan cinta ini dikatakan melalui bait-bait sebelum akhir puisi. Sekali lagi, penulis memakai simbolisme untuk mengucapkan pesan ini.

‘Isaw’ (Lokasi), ialah satu lagi dari penulis pengerjaan estetis yang dominan pada khayalan kita.

Narator bertemu orang yang dicintainya di jalan-jalan yang sarat dengan debu dan ingat bagaimana mereka rutin berbagi paket santap siang di suatu area yang diisi dengan pohon, daun kering dan cinta. Sama laksana daun kering yang jatuh cinta ini pun memudar. Yang laksana meramal masa mendatang dalam kehadirannya. Dengan pertemuan tiba-tiba di jalanan, narator dikejutkan oleh kilat mata yang pernah dikenalnya, mata yang dulu begitu dicintai. Sekali lagi mereka berpisah laksana debu di angin.

‘Boho Kalakata Pasu Rambukkana Dumriya Nawathumedi’ (Setelah lama di Stasiun Kereta Api Rambukkana) ialah tempat narator meneliti orang itu, dia senang menatapnya sarat harap. Pembaca menyadari ini melulu di akhir puisi. Keberhasilan dan ketidakbergunaan harapan-harapan cinta ini dikatakan melalui bait-bait sebelum akhir puisi. Sekali lagi, penulis memakai simbolisme untuk mengucapkan pesan ini. Tetesan embun menyerah pada hidup mereka dan menghirup bumi, sungai dengan riaknya menyukai ikan di air dan telaga yang merangkul bunga telaga dengan cinta hangat yang lembut ialah kontradiksi antara cinta yang hilang dan asa cinta.

Sanjeewa Moonamalpe

Dalam puisi ‘Obata Nowe Batiththanta’ (Bukan guna Anda, guna Chaffinches), narator mengucapkan kerinduannya guna bebas saat seekor burung bepergian ke cakrawala luas langit untuk mencungkil semua norma dalam kehidupan.

Dengan tersebut penulis bergerak lebih jauh ke dunia hasrat yang bergairah dalam puisi ‘Hangum Pipireemak’, (Meledak Emosi) dan mengekspresikan kecintaan atas kemauan yang pernah terpenuhi dan cinta yang lama hilang. Sanjeewa Moonamalpe menanam sentuhan terakhir guna koleksi puisinya melewati puisi ‘Boho Kalakata Pasu’ (Setelah masa-masa yang lama) dengan perasaan nostalgia atas konsep waktu. Narator melukis pemandangan di mana masa-masa tidak memiliki hakikat sama sekali. Meskipun masa-masa mungkin bermanfaat untuk air terjun, hujan, angin, dan dingin yang berubah seiring waktu, untuk narator tidak ada dengan kata lain sama sekali.

Konsep ketiadaan berlangsung sepanjang kelompok puisi, penulis membawa dalam puisi terakhir sebagai hakikat dari seluruh kelompok puisi. Narator sedang di titik diam dalam kehidupan dan bercita-cita ingatannya membara dan pada kesudahannya meminta waktu guna melepaskannya sebab dia tidak lagi hendak berlari dengan waktu. Sanjeewa Moonamalpe telah mengerjakan pembenaran guna makna dan hakikat kehidupan.

Facebook Comments



Pameran

December 2018
M T W T F S S
« Oct    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

INSPIRASI DESAIN TAMAN KECIL SAMPING RUMAH BIKIN RILEKS

Like And Join Our Fan Page

Studio Desain Rumah Tropis

3 years 8 months ago

Kami menerima jasa desain rumah / bangunan baik desain baru maupun rehab
keterangan lebih lanjut silakan klik link tautan yang ada...atau hubungi :
HP/ SMS / WA : 081575139855

JASA DESAIN
Studio Desain Rumah Tropis

Studio Desain Rumah Tropis

3 years 9 months ago

Studio Desain Rumah Tropis updated their profile picture.

Studio Desain Rumah Tropis

4 years 6 months ago

Studio Desain Rumah Tropis shared a link.

Cluster Mewah Dalam Kota Jogja - OLX.co.id (sebelumnya Tokobagus.com)

Studio Desain Rumah Tropis

5 years 7 months ago

Studio Desain Rumah Tropis shared a link.

Desain Musholla Tropis Minimalis